Tentang Penulis

Ada saat-saat ketika sebuah kalimat datang tanpa diundang.

Biasanya selepas subuh, ketika rumah masih sunyi dan air di ketel belum mendidih. Kalimat itu singgah sebentar, seperti burung yang hinggap di pagar, lalu terbang lagi kalau tidak segera ditangkap.

Dulu saya membiarkannya pergi. Sekarang saya menangkapnya.

Nama saya Ummu Khathir. Bukan nama yang diberikan orang tua saya, melainkan nama yang saya pilih untuk tulisan-tulisan ini. Khathir berarti lintasan hati: sesuatu yang melintas di dalam dada, hanya sebentar, tetapi kadang meninggalkan jejak yang lama.


Kitab yang mengajari saya menangkap

Ibnul Jauzi, seorang ulama dari Baghdad, menulis sebuah kitab berjudul Shaid al-Khathir, yang artinya “menangkap lintasan hati”. Di awal kitabnya ia bercerita bahwa pikiran-pikiran datang dan pergi begitu saja, maka ia memutuskan untuk menuliskan setiap yang terlintas, agar tidak hilang dilupakan.

Saya terdiam lama setelah membaca itu.

Berapa banyak lintasan hati yang sudah saya biarkan lewat? Percakapan kecil dengan tetangga di depan pagar. Wajah lelah seorang ibu yang menggendong anaknya di bawah hujan. Doa yang saya ucapkan lirih di sepertiga malam, lalu saya lupakan ketika pagi datang membawa cucian dan urusan dapur.

Semua itu pernah singgah. Semua itu pernah berarti sesuatu. Dan hampir semuanya hilang.

Goresan Hati adalah usaha saya untuk tidak lagi kehilangan.


Apa yang akan Anda temukan di sini

Fiksi. Cerita rekaan. Tokoh-tokohnya tidak pernah ada, tetapi perasaan mereka mungkin terasa akrab, karena saya meminjamnya dari kehidupan.

Kisah Kehidupan. Potongan hidup yang saya tuturkan seperti cerita. Nama dan tempat sengaja saya samarkan; yang saya jaga hanya kejujurannya.

Renungan. Catatan pendek tentang syukur, sabar, kehilangan, dan pulang. Ditulis untuk diri saya sendiri, terutama, dan untuk siapa saja yang sedang membutuhkannya.


Mengapa bersembunyi di balik nama pena?

Mungkin Anda bertanya. Jawabannya sederhana: saya ingin yang Anda kenal adalah tulisannya, bukan penulisnya. Sebuah goresan tidak perlu tahu tangan siapa yang membuatnya. Ia hanya perlu sampai.

Jika suatu hari ada satu kalimat di sini yang membuat Anda berhenti sejenak, menarik napas, lalu teringat sesuatu yang lama terlupa, maka goresan itu telah sampai. Dan itu sudah lebih dari cukup bagi saya.

Selamat datang di Goresan Hati.

— Ummu Khathir