Setrika Arang Ibu

Pagi belum genap terjaga
ketika Ibu memungut setrika arang,
wajahnya berseri,
lalu meletakkannya di atas tatakan
tempat besi tua itu teguh berdiri.
Panasnya kau taklukkan perlahan.
Kusut demi kusut kau rapikan,
seperti merapikan cerita
yang tak sempat kau ucapkan.
Bulir keringatmu disapu angin
dari balik jendela bertirai putih;
tirainya melambai seperti kesetiaan
yang kian letih, tetapi tak pernah pergi.
Kau licinkan mimpi di atas kain yang kau gerai,
berharap air mata anak-anakmu tak berurai.
Di sisi tatakan, sebuah cangkir tua berisi air,
tempat jemarimu memercik kain
dan sesekali mendinginkan lelah.
Peluhmu tak kau seka dengan keluh,
hingga kami berdiri tegak
menatap cita-cita.
Wangi bara itu kini kudekap kembali,
setiap kali rindu
mengetuk dari dalam mimpi.
Rinduku melayang ringan
bagai debu di cahaya pagi,
tetapi ingatan tentangmu kugenggam erat,
sebagaimana dulu kau genggam harapan
untuk kami.

— Ummu Khathir