Tiga belas pantun, tiga belas pesan kecil. Ditulis untuk hati yang sedang belajar: menjaga lisan, menjaga setia, dan menjaga harap kepada-Nya.
I
Berlayar perahu ke Pulau Seribu,
Hendak menjala ikan tenggiri;
Ingin sahabat datang menyatu,
Jaga lisan, tahanlah diri.
II
Arus dangkal tampak tenang,
Rupanya kuat menghanyutkan;
Bila kawan berbuat sayang,
Jangan dibalas dengan tikaman.
III
Buah cempedak di atas meja,
Harum baunya sampai ke beranda;
Wahai adik, jangan terlena saja,
Jagalah hati selagi muda.
IV
Ikan tuna dibuang durinya,
Agar tak tertusuk saat disantap;
Setia itu mahal harganya,
Jangan ditukar dengan yang sekejap.
V
Kain kasa pembalut luka,
Dibasuh pelan dengan air garam;
Bercanda boleh, tertawa pun suka,
Asal tak menyisakan hati yang muram.
VI
Menabur garam ke tengah lautan,
Segenggam hilang tiada berbekas;
Jauhi amal tanpa tujuan,
Umur berlalu takkan terbalas.
VII
Gelap malam bintang bersinar,
Penunjuk arah nelayan berlayar;
Pintu ampunan terbuka lebar,
Jangan berputus asa, segeralah sadar.
VIII
Pohon kelapa di tepi pantai,
Daunnya melambai disapa angin;
Kasih ibu tiada usai,
Bakti anak jangan sampai dingin.
IX
Matahari terbit di ufuk timur,
Bulan purnama di waktu malam;
Siang berikhtiar jangan menganggur,
Malam beristighfar dalam diam.
X
Lilin patah di bawah meja,
Nyalanya redup hampir padam;
Jangan jadikan sembarang cahaya,
Penerang jalan di tengah kelam.
XI
Jalan kaki ke Tanah Suci,
Berat langkah namun dijalani;
Bila hati telah terobati,
Ringan melepas yang telah pergi.
XII
Daun pepaya digulai ikan,
Sedap disantap selagi hangat;
Suami istri saling berpegangan,
Kasih sayang kekal terikat.
XIII
Tanah liat dibentuk kuali,
Untuk memasak sayur dan sagu;
Dalamnya laut dapat diselami,
Dalamnya hati siapa yang tahu.
— Ummu Khathir
