Aku selalu datang ketika imam sudah bertakbir.
Bertahun-tahun begitulah aku, membawa dari rumah dapur yang belum selesai, anak yang belum tidur, dan hati yang belum sempat pulang kepada dirinya sendiri. Maka tempatku sudah pasti: barisan paling belakang, dekat rak mukena, tempat sandal-sandal tertata miring.
Musala itu kecil, hanya sepetak bangunan di ujung gang yang catnya mengelupas di bagian bawah, tempat percikan air hujan meninggalkan garis-garis cokelat. Shaf depannya diisi mereka yang datang lebih awal: ibu-ibu bermukena putih yang disetrika rapi, dengan tasbih yang sudah berputar sebelum azan selesai. Kupandangi punggung-punggung mereka dari belakang, dan aku merasa seperti orang yang tiba di stasiun ketika kereta sudah menjauh, tinggal bunyi rodanya di kejauhan.
Orang mengira keterlambatan lahir dari kemalasan. Mereka tidak tahu bahwa setiap sore adalah rangkaian hal kecil yang saling menahan. Pukul dua siang, aku masih menyuapi si bungsu yang menolak bubur. Pukul tiga, kakaknya pulang membawa surat dari sekolah yang harus ditandatangani dan seragam yang harus dicuci hari itu juga. Lalu azan ashar terdengar dari pengeras suara musala, dan aku, yang tangannya masih basah oleh sabun, merasa seperti mendengar seseorang memanggil namaku dari seberang sungai yang tidak punya jembatan.
Suamiku bekerja di luar kota dan pulang hanya pada akhir pekan. Ia lelaki baik, yang menelepon setiap malam dan bertanya apakah aku sudah makan, tetapi jarak membuat perhatian terdengar kecil, seperti suara dari radio yang sinyalnya timbul tenggelam. Aku tidak pernah mengeluh kepadanya. Mengeluh, bagiku, sama dengan menambahkan satu beban lagi ke pundak orang yang sudah memikul bebannya sendiri.
Begitu pula hidupku, kupikir. Teman-teman seusiaku sudah sampai di mana-mana. Ada yang rumahnya lapang berhalaman luas, ada yang jabatannya tinggi, ada yang anak-anaknya pandai bercerita tentang cita-cita. Aku melihat foto-foto mereka di layar ponsel ketika anak-anak sudah tertidur, dan setiap kali menggulir, dadaku seperti diisi pasir sedikit demi sedikit. Bukan iri, sebenarnya. Iri masih menyimpan harapan untuk menyamai. Yang kurasakan lebih sunyi dari itu: keyakinan bahwa aku sudah ketinggalan terlalu jauh untuk menyusul siapa pun.
Aku masih ingat apa yang dulu kusukai. Aku gemar menulis. Di sebuah buku tulis bersampul biru yang kini terselip di dasar lemari, ada catatan-catatan kecil yang kubuat ketika masih gadis, ditulis dengan pena yang tintanya sering macet. Sejak anak pertama lahir, buku itu tidak pernah kubuka lagi. Aku tidak membuangnya; aku hanya menaruhnya jauh, seperti orang menyimpan surat dari seseorang yang ia takut akan merindukannya.
Sore itu hujan turun sejak ashar, deras dan lurus seperti benang yang dijatuhkan dari langit. Aku datang terlambat lagi, basah di ujung kerudung, dan berdiri di tempat yang sama. Si bungsu kutitipkan pada tetangga sebelah rumah, dan kakaknya kuminta mengerjakan tugas sekolah sambil menunggu. Hatiku tertinggal di rumah bersama mereka, tetapi tubuhku sudah telanjur berdiri di sini.
Rakaat pertama kulalui seperti biasa, dengan pikiran yang berlarian. Aku ingat bahwa beras tinggal sedikit. Aku ingat surat sekolah yang belum kutandatangani. Aku ingat foto seorang kawan lama yang pagi tadi mengunggah gambar rumah barunya. Lalu, pada sujud terakhir, entah mengapa, aku tidak kunjung bangun. Keningku menempel pada sajadah yang dingin, dan ada sesuatu yang selama bertahun-tahun kutahan seperti air di balik bendungan tua. Lantai musala itu seolah berkata, pelan saja, tidak ada yang akan menghitung berapa lama kau di sini. Maka jatuhlah semuanya, tanpa suara, membasahi kain sajadah yang tentu sudah sering menampung air mata orang-orang sebelum aku.
Aku baru bangun ketika imam sudah mengucap salam. Buru-buru kuseka wajahku dengan ujung mukena, berharap tak seorang pun melihat.
Tetapi seorang nenek dari shaf kedua menoleh ke belakang. Kami memanggilnya Nek Salamah. Usianya mungkin sudah lewat tujuh puluh, dan wajahnya seperti kain batik yang sudah sering dicuci: lembut, pudar di beberapa tempat, tetapi tak pernah kehilangan coraknya. Ia berjalan dengan tongkat kayu, dan duduk di kursi plastik kecil yang disediakan pengurus di shaf kedua karena lututnya tak sanggup lagi berdiri lama.
“Tadi sujudmu lama sekali, Nak,” katanya. “Lebih lama dari kami semua yang di depan.”
Aku menunduk. “Maaf, Nek. Saya memang selalu terlambat. Selalu di belakang.”
Ia tidak menjawab langsung. Ia menepuk tempat kosong di sisinya, dan karena tidak sanggup menolak orang setua dan selembut itu, aku duduk. Hujan masih menderas di atas seng. Ibu-ibu lain satu per satu pulang, membuka payung, menyisakan musala yang mendadak lapang.
“Kau tahu,” kata Nek Salamah, “dulu aku pun begitu. Aku menikah setelah teman-temanku sudah menggendong cucu. Aku baru punya anak ketika umurku hampir empat puluh. Dan aku baru khatam Al-Qur’an pada umur lima puluh dua, belajar dari seorang gadis yang usianya sepantaran cucuku.” Ia tertawa kecil, tanpa rasa getir. “Seumur hidup aku merasa sedang mengejar rombongan yang sudah lama berangkat.”
“Lalu apa yang Nenek lakukan?” tanyaku, nyaris berbisik.
“Aku berhenti menghitung jarak,” jawabnya. “Dari depan, Nak, kami hanya melihat dinding. Dari belakang, kau bisa melihat kami semua, dan kau bisa melihat siapa yang butuh dibantu berdiri.” Ia berhenti sejenak, membiarkan hujan mengisi sunyi. “Tapi yang kupelajari sepanjang umur ini hanya satu. Shaf paling belakang pun menghadap ke arah yang sama dengan shaf paling depan. Kiblat tidak pernah bertanya kau datang pada rakaat keberapa.”
Aku tidak menjawab. Ada kalimat yang tidak butuh jawaban, hanya butuh tempat untuk tinggal. Kalimat itu masuk ke dalam diriku dan mencari sudut yang kosong, lalu duduk di sana seperti tamu yang tahu bahwa ia akan menginap lama.
Sebelum pulang, Nek Salamah menarik tanganku dan menaruh sesuatu di telapakku: permen jahe terbungkus kertas yang sudah lecek. “Untuk anakmu,” katanya. “Dan satu untukmu. Orang yang sujudnya lama harus diberi yang manis-manis.”
Malam itu, setelah anak-anak tidur, aku duduk di tepi tempat tidur dan menghitung ulang. Bukan menghitung seberapa jauh aku dari barisan depan, melainkan ke mana sebenarnya wajahku menghadap. Aku mengingat-ingat: ketika menyuapi si bungsu, ketika mencuci seragam kakaknya, ketika menunggu telepon suamiku, ke mana arah semua itu? Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, jawabannya membuatku tenang. Semuanya menghadap pada hal yang sama. Aku hanya terlalu sibuk memandangi punggung orang lain sampai lupa memeriksa ke mana wajahku sendiri menghadap.
Entah mengapa, aku berdiri dan membuka lemari paling bawah. Buku bersampul biru itu masih di sana, berbau kertas lama dan sedikit apak. Kubuka halaman pertamanya. Tulisan tanganku yang dulu miring dan tergesa, seolah takut kehabisan waktu. Pada halaman terakhir yang masih kosong, kutulis satu kalimat saja: Hari ini aku sujud lama, dan tidak ada yang menghitungnya. Hanya itu. Tetapi ketika kututup buku itu, dadaku terasa lebih lapang dari sebelumnya, seperti ruangan yang akhirnya dibukakan jendelanya.
Sejak malam itu, aku menulis satu kalimat setiap hari. Kadang tentang bubur si bungsu yang akhirnya habis semangkuk, kadang tentang warna langit sore yang kulihat dari jendela dapur, kadang hanya tentang rasa lelah yang kuberi nama supaya tidak terlalu menakutkan. Aku tidak menulis untuk dibaca siapa pun. Aku menulis supaya hari-hariku tidak lewat begitu saja seperti kereta yang kulihat dari kejauhan.
Pada akhir pekan, suamiku pulang dan memandangiku lebih lama dari biasanya. “Kau kelihatan lain,” katanya. Aku nyaris menceritakan semuanya, tentang sujud yang lama, permen jahe, dan buku biru. Tetapi aku hanya tersenyum, dan ia, yang tidak banyak bertanya, menerima senyum itu seperti menerima kabar baik. Malam itu ia duduk di tepi ranjang dan mendengarkan aku membacakan beberapa kalimat dari buku itu. Ia tidak berkomentar apa-apa. Ia hanya berkata, setelah lama, “Seharusnya dari dulu kau menulis lagi.” Dan kalimat sederhana itu terasa seperti pintu yang dibukakan dari luar.
Soal musala, tidak banyak yang berubah. Aku masih datang setelah imam bertakbir. Aku masih berdiri di belakang, dekat rak mukena, di antara sandal-sandal yang miring. Hanya saja punggungku tak lagi membungkuk oleh rasa malu, dan ketika terlambat, aku tidak lagi menunduk saat melangkah masuk seolah meminta maaf kepada lantai. Kadang Nek Salamah menoleh ke belakang selesai salam, mengangkat dua jarinya sedikit, dan itu sudah cukup menjadi percakapan di antara kami.
Anak sulungku, yang duduk di kelas empat sekolah dasar, adalah orang pertama yang menemukan kebiasaan baruku. Suatu malam ia terbangun untuk minum dan mendapati ibunya duduk di bawah lampu belajar dengan buku biru terbuka. “Ibu sedang apa?” tanyanya sambil mengucek mata. “Mencatat hari,” jawabku. Ia mengerutkan dahi, lalu bertanya hal yang tidak kusangka: “Tadi Adik makan bubur sampai habis, Bu. Sudah ditulis?” Aku tertawa pelan, mengangguk, dan menuliskan kalimat itu persis seperti yang ia ingat. Sejak malam itu ia menjadi penyunting pertamaku. Ia memprotes kalau kalimatku terlalu sedih, dan meminta ada satu kalimat tentang kucing tetangga yang selalu tidur di atas motor. Dari anak sekecil itu aku belajar bahwa catatan tidak harus selalu tentang luka. Hari yang biasa pun layak diingat, sebab justru hari-hari biasa itulah yang dulu lenyap tanpa pernah kusadari.
Perlahan, ada pula yang bergeser dalam urusan waktu. Bukan karena aku menjadi lebih rapi, melainkan karena aku berhenti memarahi diri sendiri. Dulu, setiap kali terlambat, aku menghukum diriku sepanjang sisa hari dengan kalimat-kalimat yang tak akan pernah kutujukan kepada orang lain. Kini aku belajar menyiapkan sedikit demi sedikit: bubur si bungsu kuaduk lebih awal, seragam kakaknya kucuci sebelum zuhur, dan wudu kuambil di dapur sambil menunggu air mendidih. Beberapa sore aku tiba tepat sebelum takbir. Beberapa sore aku tetap terlambat. Bedanya, sekarang keterlambatan itu hanyalah keterlambatan, bukan putusan tentang siapa diriku.
Suatu sore, si bungsu tertidur lebih cepat dari biasanya dan aku sampai di musala sebelum azan selesai. Untuk pertama kalinya, aku berdiri di shaf pertama, karena hanya di sanalah tempat yang kosong. Dari sana kulihat dinding putih, dan kalender dengan gambar Ka’bah yang warnanya sudah pudar. Aku mendengar napas-napas di belakangku, tetapi tak bisa melihat satu pun wajah. Mendadak aku mengerti kalimat Nek Salamah. Shaf depan memang indah, tetapi sunyi dengan caranya sendiri.
Selesai salam, Bu Rukmini yang berdiri di sampingku, perempuan yang selama ini kukira tak punya kesulitan apa pun karena mukenanya selalu putih dan rapi, berbisik, “Sebenarnya saya iri pada Ibu. Ibu punya anak-anak kecil yang menunggu di rumah. Anak-anak saya sudah jauh semua, dan rumah saya terlalu sepi.” Aku tertegun. Di balik mukena yang disetrika rapi itu ada kesepian yang selama ini kukira hanya milikku. Rupanya setiap orang merasa tertinggal dari sesuatu; mereka hanya berdiri di shaf yang berbeda.
Menjelang akhir tahun, kursi plastik di shaf kedua kosong beberapa pekan. Kata orang, Nek Salamah sakit. Aku ikut dua tiga ibu menjenguknya, membawa bubur buatanku yang rasanya biasa saja. Ia berbaring di dipan sederhana, tubuhnya tampak lebih kecil dari yang kuingat, tetapi matanya masih seperti dulu: jernih, seperti air di dasar sumur.
“Nek, sekarang saya menulis setiap hari,” kataku, entah mengapa merasa harus melapor.
“Bagus,” jawabnya. “Tulislah. Orang yang tertinggal sering menjadi satu-satunya yang sempat melihat pemandangan di sepanjang jalan.” Ia terbatuk pelan, lalu tersenyum. “Nanti, kalau kau bertemu orang yang merasa paling belakang, ceritakan padanya apa yang kuceritakan padamu. Cerita seperti itu tak boleh disimpan sendiri.”
Nek Salamah berpulang pada suatu subuh di bulan Januari. Kursi plastik di shaf kedua tetap di tempatnya, dan tak seorang pun mau memindahkannya. Pada salat pertama sesudah pemakaman, aku datang lebih awal dari biasa, bukan untuk pindah ke depan, melainkan karena aku ingin duduk lama di dekat kursi itu.
Beberapa minggu kemudian, ketika imam bertakbir, seorang perempuan muda masuk tergesa-gesa dengan bayi di gendongan dan tas besar yang hampir jatuh dari bahunya. Wajahnya merah, napasnya pendek, dan matanya mencari tempat di antara barisan yang sudah rapat. Ia berdiri di belakangku. Aku bisa mendengar ia menahan diri agar bayinya tidak menangis, dan aku bisa merasakan sesuatu yang kukenal dengan baik: rasa malu karena datang terlambat. Untuk pertama kalinya aku sadar bahwa aku bukan lagi orang paling belakang.
Selesai salam, ia menunduk dalam-dalam. “Maaf, Bu. Saya selalu terlambat. Rasanya saya tertinggal dari semua orang.”
Aku nyaris tertawa, bukan karena geli, melainkan karena takjub. Kata-kata itu persis seperti kata-kataku sendiri dulu, hanya berpindah ke mulut orang lain. Kutepuk tempat kosong di sampingku, seperti yang pernah dilakukan seseorang padaku. “Duduklah sebentar, Nak,” kataku. Suaraku sendiri terdengar asing, tetapi hangat.
Sore itu tidak hujan. Langit hanya mendung rendah di atas seng, dan tak ada derai air yang membantuku mengisi sunyi. Maka aku mencari kalimatku sendiri. “Dari depan, orang hanya melihat dinding,” kataku pelan. “Dari belakang, kita bisa melihat semuanya.” Lalu kuceritakan, sedikit demi sedikit, tentang seorang nenek berkursi plastik, tentang permen jahe, tentang kiblat yang tidak pernah bertanya kita datang pada rakaat keberapa.
Perempuan muda itu mendengarkan dengan mata berkaca-kaca. Bayinya, yang sejak tadi diam, menggapai ujung kerudungku dengan jemari sekecil kuncup. Kubiarkan.
Sepulang dari musala, aku membuka buku bersampul biru dan menuliskan kalimat hari itu. Aku menulis lebih panjang dari biasanya, sampai halaman terakhir yang kosong hampir penuh. Di bawahnya kutambahkan satu kalimat lagi, bukan untukku, melainkan untuk siapa pun yang kelak membacanya:
Kalau kau merasa selalu datang terakhir, ingatlah bahwa shaf paling belakang pun menghadap ke arah yang sama dengan shaf paling depan.
Sebab tertinggal ternyata tidak sama dengan ditinggalkan.
